Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2009

2100 Bumi Akan Panas Sekali

COLORADO, KOMPAS.com — Ancaman pemanasan global masih dapat dihilangkan dalam jumlah sangat besar jika semua negara memangkas buangan gas rumah kaca, yang memerangkap panas, sampai 70 persen pada abad ini, demikian hasil satu analisis baru.
Meskipun temperatur global akan naik, sebagian aspek perubahan iklim yang paling berpotensi menimbulkan bahaya terhadap, termasuk kehilangan besar es laut Kutub Utara dan tanah beku serta kenaikan mencolok permukaan air laut, dapat dihindari.
Studi tersebut, yang dipimpin oleh beberapa ilmuwan dari National Center for Atmospheric Research (NCAR), direncanakan disiarkan pekan depan di dalam Geophysical Research Letters. Penelitian itu didanai oleh Department of Energy dan National Science Foundation, penaja NCAR.



"Penelitian ini menunjukkan kita tidak lagi dapat menghindari pemanasan mencolok selama abad ini," kata ilmuwan NCAR Warren Washington, pemimpin peneliti tersebut.
Temperatur rata-rata global telah bertambah hangat mendekati 1 derajat celsius (hampir 1,8 derajat fahrenheit) sejak era pra-industri. Kebanyakan pemanasan disebabkan oleh buangan gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, terutama karbon dioksida.
Gas yang memerangkap panas itu telah naik dari tingkat era pra-industri sekitar 284 bagian per juta (ppm) di atmosfer jadi lebih dari 380 ppm hari ini.
Sementara penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pemanasan tambahan sebesar 1 derajat celsius (1,8 derajat fahrenheit) mungkin menjadi permulaan bagi perubahan iklim yang berbahaya, Uni Eropa telah menyerukan pengurangan dramatis buangan gas karbon dioksida dan gas rumah kaca. Kongres AS juga sedang membahas masalah itu.
Guna mengkaji dampak pengurangan semacam itu terhadap iklim di dunia, Washington dan rekannya melakukan kajian superkomputer global dengan menggunakan Community Climate System Model, yang berpusat di NCAR.
Mereka berasumsi, tingkat karbon dioksida dapat dipertahankan pada angka 450 ppm pada penghujung abad ini. Jumlah tersebut berasal dari US Climate Change Science Program, yang telah menetapkan 450 ppm sebagai sasaran yang bisa dicapai jika dunia secara cepat menyesuaikan tindakan pelestarian dan teknologi hijau baru guna mengurangi buangan gas secara dramatis.
Sebaliknya, buangan gas sekarang berada di jalur menuju tingkat 750 ppm paling lambat pada 2100 jika tak dikendalikan.
Hasil tim tersebut memperlihatkan kalau karbon dioksida ditahan pada tingkat 450 ppm, temperatur global akan naik sebesar 0,6 derajat celsius (sekitar 1 derajat fahrenheit) di atas catatan saat ini sampai akhir abad ini.
Sebaliknya, studi itu memperlihatkan, temperatur akan naik hampir sebesar empat kali jumlah tersebut, jadi 2,2 derajat celsius (4 derajat fahrenheit) di atas catatan saat ini, kalau buangan gas dibiarkan terus berlanjut di jalurnya saat ini.
Menahan tingkat karbon dioksida pada angka 450 ppm akan memiliki dampak lain, demikian perkiraan studi contoh iklim itu.
Kenaikan permukaan air laut akibat peningkatan panas karena temperatur air menghangat akan menjadi 14 sentimeter (sekitar 5,5 inci) dan bukan 22 sentimeter (8,7 inci). Kenaikan mencolok permukaan air laut diperkirakan akan terjadi karena pencairan lapisan es dan gletser.

Volume es Kutub Utara pada musim panas menyusut sebanyak seperempat dan diperkirakan akan stabil paling lambat pada 2100. Suatu penelitian telah menyatakan, es musim panas akan hilang sama sekali pada abad ini jika buangan gas tetap pada tingkat saat ini.
Pemanasan Kutub Utara akan berkurang separuhnya sehingga membantu melestarikan populasi ikan dan burung laut serta hewan mamalia laut di wilayah seperti di bagian utara Laut Bering.
Perubahan salju regional secara mencolok, termasuk penurunan salju di US Southwest dan peningkatan di US Norhteast serta Kanada, akan berkurang sampai separuh kalau buangan gas dapat dipertahankan pada tingkat 450 ppm.
Sistem cuaca itu akan stabil sampai sekitar 2100, dan bukan terus menghangat. Tim penelitian tersebut menggunakan simulasi superkomputer guna membandingkan skenario peristiwa biasa melalui pengurangan dramatis buangan karbon dioksida yang dimulai dalam waktu sekitar satu dasawarsa.
Penulis kajian tersebut menegaskan, mereka tidak mengkaji bagaimana pengurangan seperti itu dapat dicapai atau menyarankan kebijakan tertentu.
"Tujuan kami ialah menyediakan bagi pembuat kebijakan penelitian yang sesuai sehingga mereka dapat membuat keputusan setelah mendapat keterangan," kata Washington.
"Studi ini menyediakan suatu harapan bahwa kita dapat menghindari dampak terburuk perubahan iklim, jika masyarakat dapat mengurangi buangan dalam jumlah besar selama beberapa dasawarsa mendatang dan melanjutkan pengurangan utama sepanjang abad ini."

Selengkapnya...

Hati-hati Suhu Bumi Bakal Naik 5,2 Derajat Celsius

WASHINGTON, KOMPAS.com — Dampak pemanasan global abad ini bisa jadi dua kali lebih parah dari perkiraan enam tahun lalu, demikian laporan beberapa ahli pekan ini.
"Temperatur rata-rata permukaan naik 9,3 derajat fahrenheit (5,2 derajat celsius) sampai 2100," kata beberapa ilmuwan di Massachusetts Institute of Technology (MIT), dibandingkan dengan studi pada 2003 yang memproyeksikan temperatur rata-rata naik 4,3 derajat F (2,4 derajat C).



Studi baru yang disiarkan di Journal of Climate American Meteorogical Society’s menyatakan, perbedaan dalam proyeksi itu ditimbulkan contoh ekonomi yang meningkat dan data ekonomi yang lebih baru dibandingkan dengan skenario sebelumnya.
"Peringatan sebelumnya mengenai perubahan iklim juga mungkin telah diselimuti dampak pendinginan global berbagai gunung berapi abad XX dan oleh buangan jelaga, yang dapat menambah pemanasan," kata para ilmuwan tersebut dalam satu pernyataan.
Agar mencapai keputusan, tim MIT menggunakan simulasi komputer yang memperhitungkan kegiatan ekonomi dunia serta proses iklim.
"Semua proyek tersebut menunjukkan bahwa tanpa tindakan cepat dan besar-besaran, peringatan dramatis itu akan terjadi pada abad ini," kata pernyataan tersebut.
Hasil itu akan terlihat jauh lebih parah apabila tidak ada tindakan nyata, yang dilakukan guna memerangi perubahan iklim, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya. Namun, akan terjadi sedikit perubahan apabila kebijakan ketat diberlakukan saat ini juga untuk mengurangi buangan gas rumah kaca.
"Ada risiko yang lebih besar dibandingkan dengan yang kami perkiraan sebelumnya. Dan hal ini menunjukkan bahwa kita harus segera melakukan tindakan darurat secepatnya," ujar Ronald Prinn, salah satu penulis bersama tersebut.
Studi ini disiarkan saat Presiden AS Barack Obama mengumumkan rencana menetapkan standar buangan nasional bagi mobil dan truk, guna mengurangi polusi pemanasan global. Serta pembuatan rancangan yang menetapkan sistem perdagangan gas untuk memangkas gas rumah kaca, yang dibahas di Komite Perdagangan dan Energi Senat.

Selengkapnya...

Kamis, 30 April 2009

Penyebab Lapindo adalah Pengeboran Minyak









Ini adalah kabar terahir dari BBC News dimana geologis ternama di seluruh dunia telah menyatakan kesimpulan bahwa penyebab Lapindo adalah dari pengeboran minyak.

Baca berita selengkapnya disini: Mud eruption ’caused by drilling’



Selengkapnya...

Ecoseksual

Beberapa tahun terakhir adalah tahun untuk para Metroseksual, dimana mereka adalah orang-orang perkotaaan yang biasanya sangat peduli dengan penampilan mereka. Metroseksual juga biasanya dipakai untuk menjelaskan mengenai pria yang ingin tampil sempurna baik secara fisik yang atletis dan aksesoris penampilan seperti baju dan lainnya yang ok. Yah pokoknya yang seperti begitulah. Dan hal ini terjadi di kota-kota semua negara.
Nah sekarang yang lain ngetren adalah Ecoseksual dimana mereka adalah orang-orang perkotaan yang peduli akan lingkungan. Mereka juga biasanya eksekutif muda yang sukses sehingga mereka memiliki waktu dan uang untuk membeli hal-hal yang ramah lingkungan. Karena seperti yang saya katakan di artikel sebelumnya, menjadi ramah pada lingkungan itu bisa jadi mahal juga. Mereka ini juga akan ingin memiliki pasangan yang juga peduli akan lingkungan, dan walaupun tidak harus menjadi aktivis lingkungan, mereka akan mencoba memakai cat tembok yang tanpa timbal, senang pada tanaman, mungkin punya pojokan taman dengan kompos, dan memakai tissue yang bisa didaur ulang.

Mungkin saya dan anda bisa dikategorikan pada ecoseksual juga dan hal ini bukan menjadi hal yang jelek, tetapi juga sesuatu yang bisa memberikan semangat karena dengan menjadi ecoseksual kita bukan jadi sok cinta lingkungan, tetap normal-normal saja, tetapi tetap berusaha untuk berbuat hal-hal yang bisa membantu lingkungan. Hal-hal yang saya kemukakan di blog ini tidak terlalu aneh juga untuk diikuti tetapi hasilnya akan sangat besar bila diikuti oleh banyak orang.
Jadikan motto 2009 menjadi Trendi Dan Tetap Ramah Lingkungan. Ini baru menjadi warga perkotaan yang baik
Selengkapnya...

POMPA AIR SAMBIL BERMAIN

Pernah bermain putar-putar saat anda masih kecil? Ternyata mainan ini dapat ikut juga membantu kita mendapatkan air bersih yang sangat diperlukan dibanyak tempat. Selain itu, anak-anak pun tetap senang dengan mainan barunya.
Air bersih bukan saja susah didapat. Tetapi juga sangat memakan energi. Kita bisa saja seenaknya pakai air di rumah, tetapi tanpa sadar kita memakai pompa air listrik. Untuk daerah-daerah tertinggal dan terpencil dimana listrik pun sulit maka mendapatkan air bersih itu sangat sulit. Kita harus memompa dengan pompa tangan yang sangat berat dan melelahkan, atau harus berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan air bersih dan membawanya kembali.

Play Pumps, sebuah yayasan yang digagas oleh Trevor Field mendapatkan ide ini saat ia melihat hal yang serupa di sebuah pameran di tahun 1989. Inovasi ini lantas digali lebih lanjut untuk diimplementasikan di tempat-tempat terpencil di Afrika pada tahun 1994. PlayPumps mendapatkan banyak sorotan media saat Presiden Nelson Mandela ikut meresmikan PlayPump di sebuah sekolah.
Cara kerjanya sangat sederhana seperti di bawah ini:








Saat anak-anak bermain di komedi putar (1), air bersih terpompa (2) dari tanah (3) ke dalam tangki berkapasitas 2,500 liter (4). Lalu air mengalir melalui kran (5) Sehingga orang dewasa maupun anak-anak mudah mengambil air bersih yang turun dari tangki penampung air.
Jika air bersih dapat diperoleh dengan lebih mudah dan cepat, maka anak-anak dapat bersekolah & bermain. Anak-anak tidak perlu lagi menghabiskan waktu jauh-jauh mencari dan mengangkut air bersih karena air bersih sangat diperlukan untuk sanitasi, makan, minum, dan lainnya yang sangat vital untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Bagaimana kalau kita bawa inovasi ini ke Indonesia? Saya yakin masih banyak sekali pelosok yang sangat membutuhkan air dan tidak memiliki energi cukup untuk pompa seperti contohnya di Maumere dimana orang juga harus menampung air hujan karena kekurangan air.
Selengkapnya...

Sabtu, 25 April 2009

Isu Lingkungan Dianggap Tak "Seksi"

Pemerintah, partai politik, ataupun anggota parlemen dinilai belum menyoroti isu-isu lingkungan hidup. Isu tersebut dianggap kurang menarik dan tidak "seksi".
Menurut Bima
Aria, seorang pengamat politik, isu-isu mengenai lingkungan hidup sebenarnya dapat dibuat menarik sehingga menjadi perhatian dari berbagai pihak


"Semua itu tergantung packaging dan siapa yang menyampaikan. Jika kemasan dan penyampai sudah menarik, isu tentang lingkungan hidup akan menjadi perhatian," ujar Bima seusai diskusi panel bertajuk "Tantangan Kepemimpinan Gerakan Politik Hijau Pasca Pemilu 2009" di Jakarta, Jumat (24/4).

Ia menerangkan, musim kampanye pilpres mendatang adalah waktu tepat untuk mengembuskan isu-isu lingkungan hidup. Pendekatan yang dilakukan bisa melalui KPU atau stasiun TV.

Selain itu, lanjut Bima, harus mencoba untuk menembus ring satu tim sukses capres dan cawapres. Tim sukses tersebut didorong untuk menambahkan porsi isu lingkungan hidup dalam kampanye terbuka. Cara lain adalah dengan menggunakan para artis yang menjadi anggota parlemen.

"Selebritis itu perlu amunisi untuk berbicara di depan publik. Mereka dapat diberi pengetahuan mengenai isu-isu lingkungan hidup dan diarahkan menjadi opinion leader," ungkap Bima. Menurut Bima, figur publik yang mempunyai kapasitas untuk dijadikan opinion leader adalah Rieke Dyah Pitaloka dan Wanda Hamidah. "Buat isu ini semenarik mungkin, jangan sampai bersifat reaktif sesaat, perlu juga monitor setelah itu," tutup Bima.

Selengkapnya...

Kamis, 02 April 2009


Hanya Ada Satu Bumi

Memperingati Hari Lingkungan Hidup setiap tanggal 5 Juni seharusnya tidak bisa lagi dilakukan secara rutin dan biasa-biasa saja.

Hari Lingkungan Hidup kini sudah harus digunakan seefektif mungkin untuk mengingatkan masyarakat, bangsa, dan warga dunia akan nasib Sang Bumi yang tampak semakin berada di ujung tanduk. Tidak melebih-lebihkan kalau beberapa waktu lalu di harian ini dimuat sebuah reportase tentang kemungkinan umur Bumi tinggal satu abad.

Tentu yang dimaksud dengan "umur" di atas adalah batas keterhunian karena dalam ilmu astronomi ada lagi teori yang mengaitkan hal ini dengan teori evolusi bintang, yang menyebutkan umur Bumi yang dikaitkan dengan umur Matahari masih sekitar 4,5 miliar tahun lagi. Namun, dengan pemanasan global dan terus menurunnya kualitas lingkungan, sejumlah ilmuwan malah telah mulai menyebut kurun seabad ke depan sebagai one final century (abad kita yang terakhir).

Ketika akan berlangsung Konferensi Lingkungan Hidup PBB tahun 1972 di Stockholm, terbit sebuah buku yang penting, ditulis oleh Barbara Ward dan Rene Dubos, berjudul Only One Earth. Bagaimana kita memaknai fakta bahwa "Hanya Ada Satu Bumi"? Semestinyalah kita dengan penuh penghormatan memelihara lingkungannya, hutannya, sungainya, juga menghormati makhluk yang berbagi ruang hidup di Bumi yang satu ini.

Janganlah lupa, paham lingkungan hidup atau ekologi diturunkan dari kata Yunani "oikos", yang berarti "rumah" atau "tempat tinggal". Rumah akan menjadi nyaman atau tidak sepenuhnya terpulang kepada para penghuni. Semakin banyak penghuni akan semakin panaslah rumah, apalagi kalau para penghuni gemar menyulut api.

Melihat perkembangan aktivitas di Bumi, kegemaran "menyulut api" tentu simbolisasi aktivitas manusia baik dalam industri maupun kehidupan perorangan. Dari sejak industrialisasi mendapatkan momentum melalui epoh, seperti Revolusi Industri di pertengahan abad ke-19, manusia telah menyemburkan miliaran ton gas dan debu ke atmosfer, yang tak sepenuhnya bisa dibawa turun lagi ke permukaan Bumi.

Kerusakan lingkungan juga terjadi tidak saja di atmosfer, tetapi juga di laut dan di darat. Dalam konteks ini, sejumlah negara—yang sebenarnya besar andilnya dalam terjadinya pemanasan global—justru ditengarai tidak mau proaktif dalam upaya mengerem gejala dengan konsekuensi katastrofik ini. Jelas negara-negara ini tidak mau menerima realitas, mereka juga hidup dalam "Satu Bumi". Mungkin mereka mengira, mereka bisa selamat sendiri. Sungguh satu ilusi yang amat tragis.

Selengkapnya...

Selasa, 31 Maret 2009


Tanggul Situ Gintung Jebol

Akibat Minimnya Monitoring & Perawatan Tanggul

Jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten yang menewaskan ratusan orang sebenarnya bisa dicegah. Hal itu bisa terjadi asalkan ada monitoring dan perawatan rutin terhadap tanggul.

Demikian pendapa
t yang dikemukakan peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Edi Prasetyo Utomo di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI di Bandung, Jawa Barat, Selasa (31/3/2009).

Edy megatakan minimnya motoring dan perawatan Situ Gintung jadi salah satu faktor penyebab jebolnya tanggul. "Saya menduga tidak ada monitoring dan perawatan terhadap konstruksi Situ (Gintung)," ujarnya.

Monitoring yang dimaksud Edy terkait dengan daerah aliran sungai (DAS) dan daya tampung air di tanggul. Data itu meliputi ketersediaan data soal curah, intensitas, dan waktu turunnya hujan yang bisa menjelaskan kapan tanggul terisi penuh dengan air.

Dengan data itu, lanjut Edy, setidaknya bisa diprediksi seandainya tanggul akan jebol lantaran volume air di tanggul penuh.

"Data yang saya peroleh puncak hujan terjadi pada pukul 16.00 sampai pukul 18.00 WIB dengan curah hujan 22,6 milimeter per-jam. Pukul 22.00 WIB air sudah melewati batas, Kenapa bisa jebol? Padahal tahun 2007 yang curah hujannya 158 milimeter saja tidak," papar Edy lagi.

Karena itu, untuk membantu monitoring Situ Gintung, Edy menyarankan dipasang Automatic Rainfall Gauge (ARFG) yakni alat pemantau curah hujan untuk memonitor curah dan intensitas hujan, serta bisa mengukur kapan air akan sampai di suatu tanggul.

"Idealnya ini dipasang tiap 10 km dan harganya tidak sampai Rp 10 juta per-unit," jelasnya.

Soal perawatan tanggul, Edy mengatakan konstruksi Situ seharusnya dipantau lebih jeli. Apalagi Situ Gintung adalah tanggul yang dibangun sudah lama sejak tahun 30-an. Ia mengusulkan daerah sekitar bendungan seharusnya dirawat dengan baik, termasuk soal kelayakan Situ. Sehingga jika ada potensi kerusakan bisa segera teratasi.

Misalnya soal kekuatan tanggul, harus dipantau kekuatan tanggul menahan air. "Di situ ditemukan amblesan dan kekeroposan. Itu harus segera diatasi dengan grooting," imbuhnya.

Ia juga meminta di sekitar poros bendungan tidak ada bangunan yang didirikan, "Untuk konstruksi Dam tipe urugan sangat terlarang adanya pemukiman dan bangunan lain selain bangunan pemantau," tambah Edy.

Faktor utama jebolnya Situ Gintung, dijelaskan Edy adalah akumulasi dari minimnya monitoring dan perawatan tanggul. Kerusakan kecil sudah terpantau dari dulu, tapi tidak teratasi.

"Termasuk infrasturktur di situ sudah tua dan tidak ada monitoring. Ditambah lagi debit hujan tinggi, dan banyak bangunan di sekitar poros bendungan," pungkasnya.

Selengkapnya...

Berita Lainnya

 

Copyright © 2009 by OKAPRODUCTION